Translate

Rabu, 05 Maret 2014

GOA LALAY Pelabuhan Ratu

Goa Lalay berlokasi sekitar 3Km dari Kota Pelabuhan Ratu, di Kabupaten Sukabumi Jawa Barat, Indonesia . Disini bisa disaksikan jutaan kelelawar yang menghuni Goa ini, sehingga dinamakan dengan Goa Lalay (Lalay=Kelelawar). Biasanya rombongan Kelelawar ini mulai keluar menjelang senja sekitar jam 17.00.
Jutaan Kelelawar ini biasanya terbang sekitar 20 menit dan kemudian muncul lagi untuk 30 menit kemudian. Mereka beterbangan hanya di sekitar muka Goa tersebut. Bahkan katanya berdasarkan mitos, Kelelawar-kelelawar ini terbang juga ke daerah lain seperti Banten, Bogor, Jakarta Bahkan Bandung. Setelah menikmati atraksi ribuan kelelawar, pengunjung bisa langsung menikmati keindahan Sunset pantai Pelabuhan Ratu. karena Goa ini hanyak berjarak beberapa meter saja dari bibir pantai.
 Gua horizontal yang hanya memiliki satu ruangan besar (chamber) dengan panjang kurang lebih 40 meter, lebar 25 meter dan tinggi 15 meter tersebut, hampir seluruh bagian atapnya tertutup oleh koloni kelelawar. Dari hasil identifikasi yang dilakukan, ternyata hanya terdiri dari satu jenis saja, yaitu Chaerophon plicatus atau yang lebih dikenal dengan “tayo kecil”. Jenis ini merupakan anggota suku Molossidae, yang bisa dibedakan dengan kelelawar jenis lain karena separuh bahkan lebih ekornya, bebas dari selaput kulit antar paha. Selain itu tayo kecil ini memiliki bibir yang berkerut-kerut dan dauntelinga tebal.

Kelelawar ini termasuk jenis kelelawar pemakan serangga, diduga makanan utamanya adalah kupu-kupu malam dan juga wereng di persawahan. Tempat bertengger yang menjadi pilihannya adalah gua, namun sering dijumpai juga tinggal di bangunan buatan manusia. Biasanya dalam jumlah atau koloni yang sangat besar, seperti yang terlihat di Gua Lalai.
Chaerophon plicatus memiliki daerah persebaran yang cukup luas, di Indonesia jenis ini bisa di jumpai mulai dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, Nusatenggara, Sulawesi hingga Maluku.
Keberadaan kelelawar di Gua Lalai tentunya memberikan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Kelelawar yang memiliki rata-rata berat tubuh sekitar17 gram dan mampu memakan serangga seberat seperempat dari berat tubuhnya setiap malam, tentunya berperan penting dalam mengendalikan populasi serangga sehingga tidak terjadi ledakan populasi, yang berarti menjadi hama.



Kandungan fosfat yang tinggi dari guano (kotoran/fases) kelelawar yang dihasilkan, ternyata sudah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai pupuk alami. Dengan jumlah kelelawar yang sangat banyak, Gua Lalai mampu menghasilkan guano seberat 2 ton setiap 2 bulan. Hal ini merupakan potensi yang luar biasa, namun yang perlu di perhatikan adalah pengelolaan yang tepat sehingga tidak mengganggu keberadaan gua dan juga kelestarian gua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar